Close Menu
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Politik & Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Opini
  • Olahraga
  • Video
  • Trending

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

“Ujian Terberat Rasulullah SAW. Pasca Isra’ Mi’raj”

16 Januari 2026

Petugas Lapas Pamekasan Berhasil Gagalkan Penyeludupan Narkoba

15 Januari 2026

WBP Asimilasi Lapas Kelas IIA Pamekasan Panen Lele dan Pisang Untuk Program MBG

15 Januari 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Demos
  • World
  • Science
  • Buy Now
Facebook X (Twitter) Instagram
Klix
  • Berita Utama
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik & Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Opini
  • Viral
Klix
Home » Kisah Asal-usul Bhuju’ Tamonè Batuan Sumenep

Kisah Asal-usul Bhuju’ Tamonè Batuan Sumenep

adminBy admin30 April 2025Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest Telegram Email WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Klix.co.id | Bhuju’ adalah sebuah kuburan/maqbarah yang dikeramatkan oleh masyarakat, dan diyakini dalam kuburan tersebut bersemayam jenazah dari tokoh yang pernah memberi pengaruh terdapat kehidupan masyarakat. Sedang tamonè adalah bahasa madura yang berarti ari-ari atau plasenta orok manusia yang diputus dari bayi setelah kelahirannya. Penguburan ari-ari biasanya dikubur di depan rumah (Madura : Pas-pasan) samping kiri jika bayi perempuan, dan samping kanan jika bayi laki-laki.

Masyarakat khususnya Jawa atau Madura meyakini bahwa ari-ari yang berperan menyalurkan nutrisi itu dianggap sebagai teman bayi dalam kandungan. Ketika bayi lahir, ari-ari yang dipotong tetap dirawat dan dikubur dengan baik. Perlakuan yang baik ini agar ari-ari tidak dimakan binatang atau membusuk di tempat sampah. Ari-ari ditempatkan di dalam gentong kecil (Madura : kendhi) dengan dibungkus daun talas, garam, cabai, daun nangka (diambil yang sudah jatuh, sebanyak 7 lembar, yang diambil dalam posisi sama. Jika posisi tengkurap maka 7 lembar daun nangka semua diambil yang tengkurap, demikian jika posisi terlentang), dan beberapa benda simbol lainnya.

Daun talas mempunyai simbol makna agar sang anak kelak tumbuh tidak hanya memikirkan hal duniawi saja, tapi juga bermuara terhadap ukhrawi, mempunyai tingkah laku yang baik sesuai harapan keluarganya. Garam dan cabai dalam falsafah Madura disebut “Sopajā nyerrep bujā cabbhi” (Mudah menerima nasihat yang baik), dan cabai, artinya agar kehidupannya kelak biasa merasakan kerasnya kehidupan.

Bhuju’ tamonè ini terletak di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Sumenep, menurut penjelasan sejumlah sumber, di dalam kuburan ini bersemanyam seorang tokoh bernama Sayyid Ustman dan Siti Fatimah. Bujhu’ ini berada dibawah pohon kosambhi, dan disekitarnya terdapat perkuburan umum. Pohon kosambhi berarti isyarat penyebutan e sambi (dibawa) mati.

Al-kisah : Seorang tokoh agama bernama Sayyid Ustman, putera dari Kyai Peregi, salah-seorang pimpinan pondok pesantren terbesar di desa Pakondang, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep. Sayyid Ustman sendiri adalah santri disalah-satu pondok pesantren di desa Lembung, Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.

Kyai Paregi sendiri, dalam sumber lain disebut Kyai Pekke, atau Kyai Faqih, beliau adalah sosok penting dalam sejarah Sumenep, diperkirakan hidup sejak akhir paruh kedua, abad ke-17. Beliau bersaudara dengan Nyai Nurima, ibu dari Bindara Saot alias Kanjeng Raden Tumenggung Tirtonegoro, Raja Sumenep terakhir dari dinasti itu.

Suatu hari Sayyid Ustman hendak pulang kerumahnya, namun di tengah jalan tepatnya di desa Batuan, ia kehujanan lalu berteduh dibawah pohon kosambhi berukuran besar. Beberapa saat kemudian datang seorang wanita muda yang hamil, bernama Siti Fatimah yang juga berteduh di bawah pohon itu.

Sayyid Ustman berada di sebelah timur dan Siti Fatimah di sebelah barat pohon kosambhi. Beberapa saat kemudian datanglah suami Siti Fatimah. Rupanya Siti Fatimah kabur dari rumahnya, entah karena persoalan apa.

Sang suami tentu cemburu berat karena melihat isterinya berdiri bersama laki-laki lain, dan tanpa basa-basi Ia langsung membunuh mereka berdua, tanpa ada perlawanan, baik dari Sayyid Ustman maupun Siti Fatimah. Namun sebelum menghembuskan nafas terakhir, Sayyid Ustman sempat bersumpah bahwa ; jika darah dan kuburannya akan mengeluarkan bau harurn, ini berarti bahwa ia dan Siti Fatimah tidak bersalah. Ternyata benar, darah yang keluar dari tubuhnya saat itu, dan setelah dimakamkan maqbrahnya keluar aroma harum serta sinar berwarna biru.

Ada sumber lain yang mengisahkan bahwa Siti Fatimah yang sedang hamil, kabur dari rumahnya karena ada persoalan dengan suaminya. Dalam pelariannya ia berteduh di bawah pohon kosambhi karena hujan deras. Selang tidak lama datanglah Sayyid Ustman yang juga ingin berteduh dibawah pohon besar itu, beliau sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Sementara suami Siti Fatimah terus melakukan pencarian terhadap Siti Fatimah, isterinya.

Di tempat itulah sang suami yang melakukan mencarian, dikejutkan dengan melihat pujaan hatinya, sedang berduaan dengan laki-laki lain berdiri di bawah pohon, dimana keduanya hanya kebetulan saja sedang berteduh karena hujan yang lebat. Seketika, si suami itu terbakar api cemburu, dan tanpa berpikir panjang langsung membunuh keduanya.

Konon, sebelum menghembuskan nafas terakhir Siti Fatimah juga bersumpah, bahwa anak yang ada dalam kandungannya tidak akan mati sebelum seluruh tubuh ibunya tidak hancur.

Walhasil benar saja, darah yang mengalir dari keduanya mengeluarkan aroma wangi, dan dari kuburannya juga keluar bau harum, sebagai tanda bahwa keduanya tidak bersalah. Oleh warga setempat keduanya dimakamkan berdampingan. Namun konon, jenazah Siti Fatimah itu moksa dan tubuhnya tidak ada dalam kuburan itu.

Dari kisah itulah, muncul beberapa keyakinan dari masyarakat, bahwa bayi yang baru lahir, dan ari-arinya digantungkan dinpohon kosambhi disana, akan memperoleh berkah dan perlindungan dari Allah dengan barokah bhuju’ tamonè.

Lain dari itu, bagi pasangan suami isteri yang sudah lama dan tidak kunjung memiliki momongan atau keturunan, lalu berziarah ke bhuju’ tamonè. Insyaallah, dengan pertolongan Allah, akan segera diberi keturunan. Demikian juga bagi mereka yang sering keguguran, atau melahirkan tetapi bayinya mati.

Wallahu A’lam Bimuradihi.

Catatan : Tulisan ini diambil dari berbagai sumber, baik berupa literatur maupun pitutur (Cerita Lisan). Penulis dengan senang hati menerima keritik dan saran.

Share. Facebook Twitter WhatsApp Copy Link
admin
  • Website

Leave A Reply Cancel Reply

Don't Miss

“Ujian Terberat Rasulullah SAW. Pasca Isra’ Mi’raj”

Uncategorized 16 Januari 2026

Oleh : Abdul Rahem* Ketika Logika Tak Lagi Mampu Menjelaskan. Pagi Itu, Iman Mereka Diguncang…

Petugas Lapas Pamekasan Berhasil Gagalkan Penyeludupan Narkoba

15 Januari 2026

WBP Asimilasi Lapas Kelas IIA Pamekasan Panen Lele dan Pisang Untuk Program MBG

15 Januari 2026

Pelaku Penjambretan di Pamekasan Terancam 15 Tahun Penjara

12 Januari 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Our Picks

“Ujian Terberat Rasulullah SAW. Pasca Isra’ Mi’raj”

16 Januari 2026

Petugas Lapas Pamekasan Berhasil Gagalkan Penyeludupan Narkoba

15 Januari 2026

WBP Asimilasi Lapas Kelas IIA Pamekasan Panen Lele dan Pisang Untuk Program MBG

15 Januari 2026

Pelaku Penjambretan di Pamekasan Terancam 15 Tahun Penjara

12 Januari 2026

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

About Us

Your source for the lifestyle news. This demo is crafted specifically to exhibit the use of the theme as a lifestyle site. Visit our main page for more demos.

We're accepting new partnerships right now.

Email Us: info@example.com
Contact: +1-320-0123-451

Facebook X (Twitter) Pinterest YouTube WhatsApp
© 2026 klix.co.id / Hak Cipta Dilindungi Hukum
  • Home
  • World
  • Science
  • Health
  • Buy Now

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.