Klix.co.id | Bagi masyarakat Madura secara umum, Saronen tentu sudah tidak asing. Perpaduan bunyi atau iramanya yang khas, membuat musik tradisional yang satu ini hingga saat ini masih digandrungi dan diminati oleh masyarakat Madura.
Tidak hanya soal bunyi musiknya yang menarik, tetapi para pemainnya pun tergolong unik, mereka menggunakan kostum dengan warna mencolok dan berwarna-warni, tapi biasanya lebih dominan warna kuning. Selain itu mereka identik dengan kacamata hitam, dan blankon dikepala, sehingga menambah kesan jenaka.
Biasanya, musik saronen dimainkan saat ada hajatan tertentu bagi masyarakat madura, terutama acara pernikahan untuk mengiringi kedatangan penganten pria yang membawa beraneka ragam oleh-oleh untuk mempelai perempuan, (Madura : Ban-giban).
Musik saronen juga biasanya dimainkan untuk mengiringi event atau kontes “Panganten Sapi” (Madura : Sape Sono’). Dan menariknya lagi, musik saronen juga disertai oleh tiga atau empat orang penari latar, sehingga semakin menambah suasana estetik.
Selain diiringi oleh penari latar, Musik ini juga biasanya disertai tarian-tarian kecil oleh para pemainnya (Madura : Nandang) dengan koreografi sederhana. Kadang, para pemain juga mengiringi musik saronen dengan nyanyian (Madura : Kejungan) secara bersma-sama. Lirik nyanyian itu biasanya berupa pantun dakwah islam, atau lirik lagu yang isinya nasihat.
Nama dari Saronen, berarti seruling khas Madura. Sebuah alat musik tiup menyerupai teropet, dengan pangkal dibentuk hiasan menyerupai kumis. Sehingga pemainnya, saat meniup alat ini tampak seperti berkumis tebal.
Saronen terbuat dari kayu jati pilihan yang berbentuk kerucut dengan panjang sekitar 40 Cm. Lubang yang ada pada saronen tidak jauh seperti seruling, yaitu 7 lubang, di mana ada 6 lubang yang berderet di bagian atas dan 1 lubang berada dibagian bawahnya.
Nama Saronen berasal dari kata Pasar Sennenan. Sebuah pasar tradisional di Daerah Kecamatan Ganding, dimana pasar ini hanya ada saat hari senin. Konon, setiap hari pasaran, Kyai Khatib dan para pengikutnya menghibur pengunjung pasar menggunakan musik saronen dengan berpakaian seperti badut. Setelah banyak pengunjung pasar yang berkumpul, mulailah Kyai Khatib berdakwah memberi pemaparan tentang agama Islam dan juga kritik sosial.
Alat musik saronen berjumlah 9, yang sarat dengan makna-makna. Diantaranya, 9 menunjukkan jumlah Walisongo. 9 juga merupakan pengucapan dari Bismillahirrahmanirrahim (Madura : 9 Keccap).
9 juga jumlah Alat musik yang dimainkan, diantaranya : gong besar, kempul, kenong besar, kenong sedang (Madura : Parnenga) kenong kecil, korca, gendang besar, gendang kecil (Madura : gendang dhik-gudhik (gendang kecil), dan saronen sendiri.
Saronen memiliki beberapa Irama Musik, diantaranya : Irama lembut yang dimainkan oleh pemusik dengan posisi duduk, (Madura : lorongan toju’). Berikutnya Irama sedang yang dimainkan sambil berjalan, (Madura : Lorongan Jalan). Dan Irama cepat dan dinamis yang dimainkan ketika suasana riang-gembira (Madura : Sarka’).
Lalu, siapa pencipta musik saronen tersebut?
Menurut berbagai sumber disebutkan bahwa musik saronen ada sejak 500 tahun yang lalu, musik ini diprakarsai atau diciptakan oleh Kyai Khatib Sendang. (Lahir sekitar tahun 1.550 an). Beliau adalah salah-seorang ulama nyentrik pada saat itu, yang tinggal di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Jawa Timur.
Kyai Khatib Sendang adalah putera dari Syaikh Ahmad Baidlawi Pangeran Katandur Bangkal, bin Pangeran Pakaos bin Panembahan Palembang bin Sunan Kudus.
Berdasarkan sejarahnya, musik saronen ini sengaja dicipta untuk dijadikan media dakwah oleh oleh cicit dari Sunan Kudus itu, untuk mengajak masyarakat kepada kebaikan sesuai dengan syariat Islam.
Gaya dakwah yang terbilang nyeleneh sekaligus humoris itu, ternyata mampu menggetarkan hati pengunjung pasar, sehingga tertarik dan masuk Islam. Jadi, alat musik saronen ini memang sudah ada sejak lama dan bisa dikatakan sebagai alat musik yang membantu penyebaran agama islam di Pulau Madura.
Catatan : Tulisan ini diambil dari berbagai sumber, baik berupa literatur maupun pitutur (Cerita Lisan). Penulis dengan senang hati menerima keritik dan saran.
Sumene, 28 April 2025
KING ABDUL RAHEM : Santri Nahdlatul Ulama. Khadim Kalam Abuya. Ketua Barisan Santri Sumenep
