Klix.co.id | Berawal dari penolakan terhadap permintaan sang raja untuk menjadi hakim kerajaan, hingga berujung dijatuhi hukuman berupa mengisi Gentong raksasa di halaman belakang kerajaan, yang akhirnya sang raja menyebut Syaikh Mahfudz sebagai Lambi Cabbhi. Lambi berarti mulut/Lisan/bibir, Cabbhi itu berarti pedas, arti kiasan dari mustajab, doanya cepat dikabulkan oleh Allah SWT. (baca : Kisah Asal-usul Dusun Lambi Cabbhi Gapura Tengah. Klix.co.id edisi 26 April 2025)
Syaikh Mahfudz, kembali menjalani rutinitasnya sebagai guru ngaji. mendidik para santri dengan ajaran-ajaran islam, di Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Sejak itu nama Syaikh Mahfudz makin dikenal dan menjadi “buah bibir”. Tidak hanya dikalangan masyarakat Desa Gapura tengah, tapi hingga wilayah timur daya (Kecamatan Dungkek).
Dalam riwayat lain disebutkan, Syaikh Mahfudz, merupakan sosok ulama kharismatik. Beliau adalah putera dari Kyai Agung Sayyid, atau dikenal dengan sebutan Kyai Tembing. Ibunya bernama Nyai Hawa, puteri dari Sayyid Muhammad Ali Barangbang. Kyai Agung Sayyid bersama isterinya menetap di sebuah kampung yang bernama Kampung Tembing, Desa Banjar Barat, Kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep. Sehingga, sosok Agung Sayyid dikenal dengan sebutan Kyai Tembing.
Namun menurut beberapa catatan kuna Sumenep, Syaikh Mahfudz merupakan cucu dari Kyai Abdurahman Rombu, sosok wali agung yang juga menetap di kawasan Desa Gapura. Kyai Abdurrahman Rombu tak lain adalah cucu Syaikh Ahmad Baidlawi, Pangeran Katandur, dari puteranya yang bernama Kyai Khatib Paranggan.
Alkisah : Pada saat itu, tersiar kabar bahwa Pangeran Arya Wiraraja berencana akan memindahkan pusat pemerintahan atau kota sumenep ke daeah Desa Lombang Kecamatan Batang-batang. Namun tidak terlaksana karena disana marak praktik kemaksiatan, seperti kriminal, perjudian, perzinaan, mabuk-mabukan, dan perjudian.
Suatu ketika, salah-seorang santri Syaikh Mahfudz asal Desa Lombang Kecamatan Batang-batang, mengadu bahwa di desanya banyak masyarakat yang melakukan hal ke maksiatan. Ironisnya, beberapa santri Syeikh Mahfudz ikut terpengaruh dan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Syaikh Mahfudz pun kecewa mendengar tersebut, dan beliau merasa telah gagal dalam membina dan mendidik.
Singkat cerita, akhirnya beliau mengambil keputusan untuk berdakwah, hijrah ke suatu pemukiman di wilayah timur daya, tepatnya di desa Lombang. Beliau memulai hari-harinya disana dengan pelan-pelan mengenalkan ajaran-ajaran islam. Namun dakwah beliau mendapat penolakan oleh masyarakat setempat, bahkan Syaikh Mahfudz mendapat ancaman keras, bahwa jika beliau masih tetap berdakwah maka beliau akan di usir.
Beliau hanya pasrah dan tawakkal kepada Allah. dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menolong beliau, sehingga mendapat jalan keluar dengan baik dari semua yang terjadi.
Dalam situasi penolakan itu, kemudian Allah menurunkan wabah muntaber (versi lain : kusta/lepra) yang tiba-tiba menyerang masyarakat, bahkan penyakit tersebut menyebabkan sekitar dua puluh orang meninggal dunia dalam setiap harinya.
Pada saat itu tidak ada dokter, alat kesehatan atau obat-obatan, sehingga penyakit tersebut mudah menular. Sementara yang tersedia untuk pemakaman umum hanya sekitar 1.000 M persegi, tentu tidak akan muat mengubur 20 orang meninggal setiap hari.
Walhasil, akibat banyaknya orang yang meninggal setiap hari, membuat masyarakat merasa resah dan kelelahan untuk menggali liang kuburan, sehingga terkadang dalam satu lubang mereka isi dengan 5 jenazah sekaligus. Dan, sampai akhir hayat Syaikh Mahfudz, penyakit tersebut tetap melanda.
Asta pasarean/maqbarah Syaikh Mahfud sendiri berada di areal pemakaman tersebut, yang ditandai oleh pohon bidara (Madura : Bukkol) dibelakangnya (sisi selatan).
Nama Buju’/Asta pasarean Gurang Garing sendiri sebetulnya berawal dari kisah yang sama, yakni Syaikh Mahfudz mendapat hukuman mengisi gentong raksasa dimusim kemarau, karena menolak permintaan raja untuk dijadikan hakim kerjaan. Karena kesulitan mendapatkan air untuk mengisi gentong, Beliau berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. Benar saja, namun hujan turun hanya untuk mengisi gentong raksasa tersebut.
Atas kejadian itu, sang raja pun mengakui kalau Syaikh Mahfudz bukanlah orang sembarangan, melainkan wali Allah, sehingga disebutnya Lambi Cabbhi. Sebab itu juga kemudian, Syaikh Mahfudz dikenal masyarakat, dengan sebutan Kiai Gurang Garing. Nama laqab yang diambil atas kejadian di luar nalar tersebut.
Gurang Garing adalah sebutan dari dari kata “Jurang Kerreng” (Jurang Kering) dari saking besarnya gentong yang harus diisi air, disebut jurang. hingga pengucapannya menjadi lebih mudah yakni menjadi Gurang Garing.
Demikian.
Catatan : Kisah ini diambil dari berbagai sumber, baik berupa literatur maupun pitutur (Cerita Lisan). Penulis dengan senang hati menerima keritik dan saran.
Sumene, 27 April 2025
KING ABDUL RAHEM : Santri Nahdlatul Ulama. Khadim Kalam Abuya. Ketua Barisan Santri Sumenep
