Oleh : Abdul Rahem*
Ketika Logika Tak Lagi Mampu Menjelaskan. Pagi Itu, Iman Mereka Diguncang Hebat. Isra Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan Rasulullah. Tapi juga tentang ujian logika yang membuat banyak orang berbalik arah, bagaimana iman para sahabat bertahan saat akal tak lagi mampu menerima?
Pagi itu di Mekkah¹, berita menyebar seperti api menyala. “Dia Pasti Sudah Gila”, kata Abu Jahal. “Muhammad mengaku pergi ke Palestina dan kembali hanya dalam semalam!”, tambahnya.
Bagi masyarakat yang terbiasa menempuh jarak itu selama sebulan dengan unta, tentu klaim ini adalah penghinaan terhadap akal sehat.
Abu Jahal tertawa puas. Baginya, ini momen emas untuk menjatuhkan Muhahammad SAW. “Habis sudah Muhammad. Kali ini, tidak ada yang akan percaya padanya”, dengusnya.
Sejarah mencatat fakta pahit :
Pagi itu, terjadi, fenomena Murtad (Riddah)². Sebagian pengikut yang imannya belum kokoh, tak kuasa menahan tekanan sosial dan logika. Mereka tidak sanggup diejek. Mereka tidak sanggup mendamaikan nalar dengan mukjizat. Sebagian dari mereka lalu melepaskan Islam, kembali pada kekafiran, karena menganggap Nabi telah kehilangan kewarasannya. Barisan umat menyusut. Ujian sedang bekerja.
Menyerang Benteng Terkuat. Kaum musyrikin tidak diam. Mereka mendatangi orang paling cerdas dan paling dipercaya Nabi SAW. Abu Bakar. Tujuannya satu, Membuat Abu Bakar ragu.
“Hai Abu Bakar, temanmu itu mengaku terbang ke Palestina semalam. Masihkah kau percaya padanya?”. Jika Abu Bakar sang pedagang rasional dan kaya raya menolak cerita ini, maka tamatlah Islam.
Namun Abu Bakar tidak goyah sedikitpun. la tidak terjebak dalam debat jarak dan waktu. la kembali ke fondasi dasar, siapa yang bicara? “Apakah Muhammad benar mengatakan itu?” tanyanya. “Ya,” jawab mereka.
“Jika dia yang mengatakannya, maka itu Pasti benar. Sungguh, aku mempercayainya pada hal yang lebih mustahil dari itu, : Berita dari Langit (Wahyu) yang datang padanya setiap saat”.
Abu Bakar mengajarkan kita cara berpikir tingkat tinggi, jika kita percaya Tuhan mampu menurunkan wahyu dari langit ke bumi dalam sekejap mata, mengapa kita ragu Tuhan mampu membawa hambaNya berjalan di bumi dalam semalam?
Perjalanan Isra’ Mi’raj adalah hal sepele bagi Dzat yang mengatur alam semesta³. Keraguan muncul karena kita mengukur Kuasa Tuhan dengan keterbatasan otak manusia.
Sikap Abu Bakar pagi itu menyelamatkan umat dari kehancuran mental. la menjadi Jangkar. Melihat keteguhannya, para sahabat lain kembali tenang. Keraguan sirna. Barisan kembali rapat.
Atas keyakinan total inilah, Nabi memberinya gelar abadi: As-Siddiq (Orang yang Selalu Membenarkan). Gelar yang bukan didapat dari shalat panjang, tapi dari kepercayaan tanpa syarat di saat semua orang ingkar.
Kebenaran Selalu Menemukan Jalannya, tak lama kemudian, bukti nyata datang. Nabi mampu menggambarkan detail pintu dan tiang Masjidil Aqsa dengan presisi, seolah melihatnya langsung. Nabi juga memprediksi kedatangan kafilah dagang dengan tepat.
Para penentang terdiam. Logika mereka runtuh. Abu Bakar tersenyum. Iman telah menang atas keraguan.
Isra Mi’raj mengajarkan kita, Akal punya batas, tapi Iman menembus batas.
Jadilah seperti Abu Bakar. Ketika dunia meragukan kebenaran, jadilah orang pertama yang berdiri tegak membelanya.
* Abdul Rahem : Santri Nahdlatul Ulama. Khadim Kalam Abuya
1. Imam Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Sirah Nabawiyah, Darul Kutub. Beirut Lebanon. Juz 2, hl. 94
2. Ibid.
3. Musthofa As Siba’i. Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, Jilid 1, hlm. 54
