Klix.co.id – Abu Bakar Ash-shiddiq, sahabat sekaligus mertua Baginda Nabi SAW, ayah dari Siti Aisyah Ummul Mu’minin. Ia dikenal sebagai sahabat yang paling sabar dan bijaksana. Dikisahkan dalam hadist riwayat Imam Abi Dawud, suatu ketika Nabi SAW. sedang berkunjung ke kediaman Abu Bakar Ash-shiddiq. Dalam riwayat lain disebut Nabi sedang berada dalam satu majlis bersama Abu Bakar.
Ketika itu tanpa disangka, datanglah seorang Arab Baduwi dan tiba-tiba memaki Abu Bakar Ash-shiddiq. Kata-kata kasar, cacian bahkan olok-olok keluar dari mulut Arab baduwi tersebut yang ditujukan kepada Abu Bakar Ash-shiddiq. Namun Abu Bakar hanya diam tersenyum, tidak bereaksi dan tak menggubrisnya. Melihat sahabatnya demikian, Nabi SAW pun ikut tersenyum.
Namun, orang Arab baduwi tersebut untuk yang kedua kalinya kembali mencaci maki Abu Bakar, dengan kata-kata yang lebih kotor, dan lebih kasar dari sebelumya. Lagi-lagi menyikapi hal tersebut, Abu Bakar hanya bersabar dan diam. Nabi SAW juga tetap tersenyum, senang melihat sikap Abu Bakar yang masih sabar.
Dan, Untuk yang ketiga kalinya, orang Arab baduwi tersebut kembali mencaci Abu Bakar dengan cacian dan makian yang lebih kasar, “pedas”, dari pada sebelumnya. Wal-akhir, Menanggapi cacian untuk yang ketiga kalinya ini, rupanya kesabaran Abu Bakar habis, ia pun tidak sabar lagi dan membalas cacian orang arab baduwi tersebut.
Menyaksikan sahabatnya yang turut terpancing dan tersulut emosi itu, dan membalas kembali cacian orang Arab baduwi tadi, Nabi Muhammad SAW seketika pergi meninggalkan Abu Bakar tanpa salam dan berpamitan. Singkat cerita, Abu Bakar lalu mengejar Nabi Muhammad SAW. dan bertanya : “ Wahai Baginda Nabi, kenapa engkau tiba-tiba pergi?”. Rasulullah SAW menjawab : “Ketika engkau dicaci maki orang Arab Baduwi tadi, dan kamu tetap diam dan bersabar, aku melihat malaikat datang mengelilingimu, ketika dicaci untuk yang kedua kalinya dan kamu juga masih bersabar dan hanya membalas dengan diam, aku melihat jumlah malaikat yang datang mengelilingimu bertambah banyak.” Nabi SAW melanjutkan, “Namun ketika dicaci untuk yang ketiga kalinya dan kamu membalas cacian tersebut, aku melihat malaikat yang tadi berkumpul mengelilingimu pergi meninggalkanmu dan digantikan oleh iblis-iblis yang datang mengelingimu, aku tidak bisa berkumpul dengan Iblis, oleh sebab itu aku memilih pergi meninggalkanmu.”
Peristiwa yang menimpa Abu Bakar Ashiddiq ini, bisa menimpa siapa saja, baik itu rakyat jelata ataupun pejabat negara, santri atau pun kiyai, terlebih saat ini dimana era media sosial semakin canggih dan terbendung. Saat ini, caci maki tidak harus mendatangi orangnya langsung, cukup dengan mengetik dikolom komentar, (cyberbullying). Dampaknya pun makin tidak terbatas, caci maki dimedsos ini tidak hanya diketahui atau disaksikan oleh orang satu kelompok atau desa saja, tetapi lebih besar dan dapat tersebar secara cepat keberbagai dunia.
Al-Qur’an memberikan tata cara atau tips agar kita terhindar dan tidak terpancing ketika dihina dan dicaci maki orang : “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa, mencela dan mencaci mereka, mereka menjawabnya dengan “salam”. (QS. Al-urqon : 63). Dalam arti tidak membalas cacian serupa dan menjawab makian tersebut dengan doa keselamatan atas orang yang mencelanya. Atau jika kita tidak bisa membalasnya dengan salam maka lebih baik bersabar atas apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah, dengan cara yang baik (QS. Al-muzzammil : 10)
Semoga kita semua terhindar dari segala jenis cacian dan perbuatan tercela. Amin.
Wallahu A’lam.
Suemenep, 25 April 2025
King Abdul Rahem : Santri Nahdlatul Ulama. Khadim Kalam Abuya. Ketua Barisan Santri Sumenep
