Sumenep – Pepatah lama mengatakan, tak ada asap bila tak ada api. Ungkapan itu kini seolah menemukan relevansinya di Pemerintahan Desa Pamolokan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. Insentif Ketua RT dan RW yang seharusnya menjadi hak rutin justru menguap tanpa jejak, meninggalkan aroma busuk dugaan penyelewengan anggaran.
Selama empat bulan terakhir di tahun 2025, para Ketua RT dan RW di Desa Pamolokan disebut hanya menerima janji tanpa realisasi. Hak mereka seakan berubah menjadi “anggaran siluman” yang entah singgah di mana.
Aktivis anti korupsi Sumenep, Syaiful Bahri, mengungkapkan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu warung kopi.
“Berdasarkan data yang sudah kami kantongi, sebanyak 31 Ketua RT dan 11 Ketua RW di Desa Pamolokan belum menerima insentif selama empat bulan terakhir di tahun 2025 kemarin,” ungkap Syaiful.
Menurutnya, jika insentif sudah dianggarkan namun tidak sampai ke tangan penerima, maka publik patut bertanya: ke mana perginya uang tersebut? Ataukah ada pihak yang lebih “berhak” menikmati jerih payah para RT dan RW?
Syaiful menegaskan, siapa pun yang terbukti menyelewengkan anggaran itu wajib mempertanggungjawabkannya. “Ini bukan uang mainan. Ini anggaran negara yang jelas peruntukannya,” katanya.
Lebih ironis lagi, Syaiful menyebut persoalan ini hanya satu dari sekian banyak tanda tanya yang menyelimuti Pemdes Pamolokan. Ia menilai, pemerintah desa tersebut layak mendapat rapor merah dan evaluasi total.
“Ada sejumlah persoalan lain yang akan kami ungkap dalam waktu dekat. Karena itu, Dinas PMD seharusnya tidak sekadar duduk manis, tapi melakukan pengawasan dan evaluasi menyeluruh. Dugaan pelanggaran atau perbuatan melawan hukum ini tidak bisa dibiarkan,” tandasnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada PJ Kepala Desa Pamolokan justru menambah daftar kejanggalan. Nomor WhatsApp yang dihubungi tidak aktif, dan saat didatangi ke kantor desa, yang bersangkutan juga tidak dapat ditemui.
Sikap bungkam ini pun memunculkan sindiran di tengah masyarakat: apakah dana desa lebih mudah ditemukan daripada pejabat desanya sendiri? Publik kini menunggu, apakah aroma busuk ini akan dibersihkan, atau justru dibiarkan semakin menyengat.(dayat)
